asmaulhusna

Sabtu, 02 Oktober 2010

Ayat Al-Quran dan Al-Hadits yang berkaitan dengan Perkara Korupsi

Ayat Al-Qur’an tentang Perkara Korupsi
Bila kita merujuk kepada beberapa definisi yang telah disebut pada bagian ter dahulu, maka Alqur’an sebagai Kitab Suci Umat Islam sangat menentang, mengutuk bahkan mengharamkan tindak korupsi, kanrena Islam sangat menentang bentuk-bentuk perbuatan dalam bentuk pengkhianatan, penmyelewengan, mengambil harta orang lain dengan cara tidak benar serta segala sesuatu yang merugikan orang banyak. Dan perlu dicatat bahwa Alqur’an hadir adalah untuk memerintahkan amar ma’ruf nahi munkar. Tindak korupsi, suap menyuap dan perbuatan yang merugikan orang lain adalah perbuatan munkar yang harus dicegah dan diberantas. Di antara ayat-ayat alqur’an yang mencegah, melarang perbuatan-perbuatan tersebut adalah :
1. QS Ali Imran : 161 :
$tBur tb%x. @cÓÉ<oYÏ9 br& ¨@äótƒ 4 `tBur ö@è=øótƒ ÏNù'tƒ $yJÎ/ ¨@xî tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# 4 §NèO 4¯ûuqè? @à2 <§øÿtR $¨B ôMt6|¡x. öNèdur Ÿw tbqßJn=ôàムÇÊÏÊÈ 
Tidak sesorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kenudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasantentang apa yang mereka kerjakan dengan (pembalasan ) setimpal), sedang mereka tidak dianiaya.
2, QS Al-Baqoroh:188:
Ÿwur (#þqè=ä.ù's? Nä3s9ºuqøBr& Nä3oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ (#qä9ôè?ur !$ygÎ/ n<Î) ÏQ$¤6çtø:$# (#qè=à2ù'tGÏ9 $Z)ƒÌsù ô`ÏiB ÉAºuqøBr& Ĩ$¨Y9$# ÉOøOM}$$Î/ óOçFRr&ur tbqßJn=÷ès? ÇÊÑÑÈ  

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan janganlah kamu membawa ( urusan ) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakansebagian daripada harta benda orang lain itu ( dengan jalan ) berbuat ) dosa, padahal kamu mengetahui.
Selain dari dua yat tersebut , juga dapat dipahami pula dari QS Al-Baqoroh: 42;
Ÿwur (#qÝ¡Î6ù=s?  Yysø9$# È@ÏÜ»t7ø9$$Î/ (#qãKçGõ3s?ur ¨,ysø9$# öNçFRr&ur tbqçHs>÷ès? ÇÍËÈ  
dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.
 QS Al-Nisa’ :29
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#þqè=à2ù's? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJŠÏmu ÇËÒÈ  
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu, Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
. dan tentunya ayat-ayat yang berhubungan dengan pelarangan dan pengharaman berbuat zalim dan merugikan orang lain.
Hadis-hadis tentang Korupsi

Dalam kitab-kitab hadis, beberapa istilah yang sering diidentikkan atau memiliki kedekatan arti dengan korupsi antara lain: Ghulul dan risywah.
- Ghulul: bentuk korupsi yang sangat populer
Ghulul merupakan istilah yang paling banyak digunakan oleh Rasulullah saw. dalam hadis-hadisnya terkait dengan perilaku korupsi atau penggelapan harta publik. Ghulul adalah isim masdar dari kata ghalla ya ghullu ghallan wa ghullun. Artinya, Akhdzu al-syai wa dassabu fi mata’hi” (mengambil sesuatu dan menyembunyikannya dalam hartanya). Ibnu
Hajar al-Asqalani mendefinisikan ghullul dengan “ ma yu’khazu min alghanimati khafiyyatan qabla qismatika (apa saja yang diambil dari barang rampasan perang secara sembunyi-sembunyi sebelum pembagian). Ada juga pendapat yang hampir sama bahwa ghulul dimaknai “akhdzu al syai wa dassahu fi mata’ibi” (pengkhianatan dalam hal harta rampasan perang). Semula ghulul merupakan istilah khusus bagi penggelapan harta rampasan perang sebelum dibagikan secara transparan. Definisi di atas menunjukkan bahwa ghulul terjadi pada penggelapan harta rampasan perang. Hal ini sejalan dengan makna Q.S Ali Imran: 161 dan sejumlah hadis tentang ghulul. Kendati demikian, melihat beberapa hadis lainnya, ghulul juga terjadi pada kasus pegawai/pejabat yang mengambil sesuatu di luar haknya yang diatur secara resmi. Pejabat yang menerima hadiah dari pihak tertentu terkait dengan tugasnya, dan orang yang mengambil tanah orang lain yang bukan haknya. Dengan melihat unsur-unsur yang melingkupinya, cakupan makna ghulul bisa diperluas, dikembangkan hingga ke istilah korupsi dalam berbagai bentuknya yang kini semakin canggih modus operandi-nya dan menjadi duri dalam kehidupan masyarakat.
Hadis-hadis tentang ghulul berikut dinilai mewakili kajian tematik tentang korupsi. Hadis pertama terdapat dalam shahih Bukhari, kitab al-Jihad wa al-sair, nomor 2845:
Ali ibn Abdillah telah menceritakan hadis kepada kami. Sufyan telah menceritakan kepada kami. Dari Amr, dari Salim ibn Abi Al-Ja’di, dari Abdullah ibn Umar berkata: bahwa pada rombongan Rasulullah saw. .. Ada seorang bernama Kirkirah yang mati di medan perang. Rasulullah saw. bersabda: “dia masuk neraka”. Para sahabat pun bergegas pergi menyelidiki perbekalan perangnya. Mereka mendapatkan mantel yang ia korup dari harta rampasan perang. (H.R Bukhari).
Hadis kedua dalam Shahih Muslim, kitab al-Iman, Nomor 165:
Zuhair ibn Harb talah menceritakan hadis kepadaku, Hasyim ibn Al-Qasim telah menceritakan hadis kepada kami, Iqrimah ibn Amr telah menceritakan hadis kepada kami. Ia berkata simak al Hanafi Abu Zumail telah bercerita kepadaku. Ia berkata Abdullah ibn Abbas telah menceritakan kepadaku. Umar ibn Al-Khattab menceritakan kepadaku bahwa ia berkata: ketika terjadi perang Khaibar beberapa sahabat Nabi berkata: “si Fulan mati syahid, si Fulan mati syahid. Hingga mereka berpapasan dengan seseorang. Mereka pun berkata: si Fulan mati syahid. Kemudian
Rasulullah saw. bersabda: Tidak begitu. Sungguh aku melihatnya di dalam neraka karena burdah (selimut atau aba’ah) mantel yang ia korup dari harta rampasan perang. Lalu Rasulullah saw. berkata: Wahai ibn al-Khattab, berangkatlah dan sampaikan kepada manusia bahwa tidak akan masuk surga selain orang-orang yang beriman.” Maka aku keluar dan menyerukan kepada manusia: ingatlah, sesungguhnya tidak masuk surga selain orang-orang yang beriman”. (H.R. Muslim).
Dua hadis di atas menjelaskan tentang peristiwa ghulul/korupsi di medan perang khaibar. Seorang pejuang yang gagah berani dan kemudian mati di medan perang, belum dapat dijamin bahwa ia syahid dan masuk surga. Ternyata setelah diinvestigasi (dilacak) secara cermat dan jujur, orang tersebut terlibat ghulul, mengambil selimut atau mantel dan itu menjadikannya mati sia-sia, kemudian masuk neraka. Dalam konteks kekinian, seorang pejabat atau pegawai publik (terkait urusan orang banyak) yang telah berjuang mati-matian dalam tugasnya, tetapi jika ditemukan kasus-kasus terkait “ketidakbersihan”, kecurangan, penyalahgunaan jabatan, korupsi dan suap maka citra yang selama ini dibangun menjadi tercemar dan nasibnya pun terancam neraka dalam arti yang luas.     
Banyak sekali kasus korupsi atau suap yang menimpa pejabat publik Indonesia mulai dari kasus-kasus kecil hingga kasus besar. Beberapa tindakan berikut dapat dikategorikan sebagai ghulul, misalnya: pejabat/ pegawai yang menggunakan fasilitas negara/publik untuk kepentingan
pribadi atau kelompoknya, pejabat pengadaan barang yang me-mark up (menggelembungkan) biaya pembelian dari yang seharusnya, pegawai parkir yang tidak menyerahkan seluruh pendapatan parkir kepada yang berwenang, petugas pajak yang kongkalikong dengan wajib pajak dan mengajari bagaimana memperkecil tagihan pajak sembari menerima “hadiah” dari wajib pajak tersebut, pejabat yang tidak mengembalikan sarana dinas (kendaraan, rumah dan lain-lain) setelah tidak menjabat lagi. Bahkan, sering kali diberitakan seorang pejabat/pegawai ketika masih menjabat dikenal bersih, ternyata setelah berakhir masa tugas, diketahui telah menggelapkan kekayaan negara atau publik.
- Hadiah bagi pejabat/pemegang kebijakan termasuk ghululJika dalam menjalankan tugas atau jika terkait dengan tugasnya, seseorang yang memiliki jabatan atau mempunyai wewenang tertentu diberi hadiah oleh pihak lain dengan harapan pejabat tersebut dapat memberi kemudahan tertentu atau memberi keringanan tertentu atas suatu tuntutan, maka hadiah yang demikian dikategorikan sebagai ghulul (korupsi). Hal ini dapat dipahami secara logis, sebab hadiah, tips, bingkisan atau parcel tersebut, sedikit atau banyak mempengaruhi kebijakan dan keputusannya sebagai pejabat/pegawai. Contoh yang paling nyata adalah pegawai/pejabat tingkat atas yang mendapat bingkisan/hadiah tertentu dari bawahannya demi memperoleh keuntungan tertentu.                Tindakan demikian dapat merusak sistem yang dilandaskan pada asas keadilan dan kejujuran dan tentu akan merugikan kepentingan umum. Terkait hadiah bagi para pejabat atau pegawai publik, Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya Rasulullah saw. mengangkat seorang pegawai. Ketika selesai dari
pekerjaannya, dia mendatangi Rasulullah saw. dan berkata: Wahai Rasulullah saw.
ini untukmu (untuk baitul mal, baca: negara) dan ini dihadiahkan untukku. Kemudian
Rasulullah saw. berkata kepadanya: tidakkah engkau duduk dirumah ayah ibumu,

lalu engkau tunggu apakah engkau diberi hadiah atau tidak? Rasulullah saw. Pun menyampaikan khutbah malam hari setelah shalat. Beliau mengucapkan syahadat, memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, lalu ia berkata: bagaimana perilaku seorang pegawai yang kami anggap lalu dia datang kepadaku kemudian dia mengucapkan: “Ini hasil dari pekerjaan yang engkau berikan dan dihadiahkan kepadaku”. Tidakkah dia duduk (saja) dirumah ayah-ibunya lalu ia tunggu apakah ia diberi hadiah atau tidak? Demi Allah, Zat yang jiwa Muhammad di dalam genggamannya, setiap orang yang melakukan ghulul (korupsi), pasti dai akan datang pada hari kiamat sambil mengalungkan barang yang ia korupsi dilehernya. Jika yang dukorup unta maka ia akan membawanya dengan bersuara, sungguh aku telah menyampaikan (peringatan ini). Abu Humaid berkata kemudian Rasulullah saw. mengangkat tangannya sampai kami melihat bulu ketiaknya. Abu Humaid mengatakan bahwa Zaid bin Tsabit mendengar pesan itu bersamaku, maka tanyakanlah kepadanya. (Bukhari, Shahih Bukhari: kitab al-aiman wa al nudzur, no. hadis 6145.)
Hadis diatas, jika diterapkan pada pejabat masa kini, tentu penjara akan penuh sesak. Pasalnya, banyak pejabat yang ketika bertugas banyak mendapat hadiah ini dan itu yang menurut Rasulullah saw. disebut ghulul. Betapa banyak pejabat yang menjadi kaya mendadak tidak lama setelah menduduki posisi tertentu, sementara gajinya yang kecil jika berlipatlipat pun belum tentu setara dengan jumlah kekayaan atau fasilitas yang dimiliki, bila hadis di atas berlaku secara ketat, korupsi dan suap akan bisa dicegah lebih dini.Dalam bahasa yang singkat dan lugas, Rasulullah saw. menegaskan:
Ishaq ibn Isa telah menceritakan hadis kepada kami, Isma’il ibn Ayyasy telah menceritakan hadis kepada kami, dari Yahya ibn Sa’id, dari Urwah ibn al-Zubair, dari Abi Humaid al-Sa’idi, ia berkata bahwa Rasulullah saw. .. Berabda: “Hadiah yang diterima pra pejabat/pemegang kebijakan adalah ghulul (korupsi).”( Ahmad Ibn Hanbal, Musnad Ahmad, no. hadis 22495)
Pernyataan “Hadiah bagi pejabat adalah korupsi” tersebut perlu disosialisasikan di kantor-kantor pelayanan umum, departemendepartemen pemerintah, kantor kepolisian, imigrasi, bea cukai, dan sebagainya dengan menggunakan berbagai media kampanye. Pasalnya, para pejabat tersebut sudah mendapatkan gaji/upah untuk pekerjaan yang dilakukannya secara rutin.   Mereka digaji memang untuk melaksanakan tugasnya tanpa mengharapkan imbalan/hadiah dari masyarakat yang sedang berurusan. Mentalitas pegawai/pejabat yang baru bekerja setelah mendapat hadiah “uang pelicin” dari pengguna jasa adalah bentuk korupsi yang sangat nyata. Muncul pernyataan, apakah seorang yang benar-benar beriman akan ikut melestarikan budaya uang pelicin tersebut? Hadis di atas dikuatkan oleh banyak hadis. Salah satunya adalah:

Zaid bin Akhzam Abu Thalib telah menceritakan hadis kepada kami, Abu ‘Ashim telah menceritakan kepada kami, dari Abd Al-Warits ibn Sa’id dari Husain al- Mu’alim, dari Abdullah ibn Buraidah, dari bapaknya, dari Nabi .. Beliau bersabda: “siapa saja yang telah kami angkat untuk mengerjakan suatu pekerjaan/jabatan kemudian kami telah memberikan gaji, maka sesuatu yang diterima di luar gajinya yang sah adalah ghulul (korupsi).”23

Hadis di atas berupaya memberikan pencegahan sebelum terjadi kerusakan sistem akibat hadiah dan bingkisan bagi pejabat atau pegawai yang mengurusi suatu tugas terkait urusan publik. Pejabat/pegawai yang telah mendapatkan gaji/pendapatan resmi dan sah sesuai dengan aturan yang berlaku, tidak diperkenankan menerima hadiah dari pihak-pihak lain yang sangat mungkin memiliki kepentingan tertentu yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain.
Dari hadis di atas pula, dapat dikembangkan apa yang kini dikembangkan audit kekayaan pejabat sebelum dan sesudah menjabat suatu posisi. Artinya, siapa saja yang mengaku suatu jabatan diminta menyerahkan daftar kekayaan secara jujur kepada pihak berwenang. Daftar tersebut menjadi bahan pertimbangan untuk menerima atau tidak pertanggungjawaban pejabat tersebut ketika purnatugas.
- Mangambil Tanah yang Bukan Haknya termasuk Ghulul
Beberapa hadis Nabi telah menjelaskan tentang seseorang yang mengambil tanah tetangganya secara bathil dikategorikan sebagai a’dzamu al-ghulul (korupsi paling besar). Bahkan ancaman Rasulullah saw. Sangat serius bahwa di hari kiamat pelakunya akan dikalungi tujuh tanah yang digelapkan. Hadis-hadis tersebut antara lain:
Abd al-Malik ibn ‘Amr telah menceritakan kepada kami, Zubair yakni ibn Muhammad telah menceritakan hadis kepada kami, dari Abdullah ibn Muhammad ibn ‘Aqil, dari ‘Atha ibn Yasar, dari Abi Malik al-Asy’ari, dari Nabi ., beliau bersabda: Ghulul yang paling besar dalam pandangan Allah ‘azza wa jalla adalah satu dzira (sejengkal) tanah yang didapatkan dalam dua orang bertetangga dalam suatu perkebunan atau perumahan. Salah satu dari keduanya mengambil bagian sahabatnya satu dzira (secara tidak sah), niscaya akan dibebankan kepadanya tujuh kali tanah tersebut hingga hari kiamat. (Ahmad, Musnad Ahmad, no. hadis 21822)
Dikuatkan dengan hadis Ahmad lainnya:
Waqi’ telah menceritakan hadis kepada kami, dari Syarik, dan ‘Abdillah ibn Muhammad ibn ‘Aqil, dari Atha’ibn Yasar, dari Abi Malik al-Asy’ari, ia berkata bahwa Rasulullah saw. ., bersabda: “Ghulul yang paling besar dalam pandangan Allah pada hari kiamat adalah sejengkal tanah yang terdapat di antara dua orang

atau dua orang yang bersebelahan rumah. Keduanya membagi tanah tersebut, lalu salah satu dari keduanya mengambil satu dzira (sejengkal) dari tanah sahabatnya, maka akan dikalungkan kepadanya tujuh jengkal tanah.” (Ahmad, Musnad Ahmad, no. hadis 21839.)
Jika dicermati, hadis ini mengingatkan bahwa banyak kasus ghulul
terkait dengan masalah tanah. Kasus-kasus penggusuran tanah rakyat dengan dalih pembangunan, penguasaan lahan orang lain, dan perampasan tanah-tanah rakyat/tanah adat oleh jaringan mafia tanah dengan bekal surat tanah yang aspal (asli tapi palsu) yang dapat dikategorikan ghulul besar. Mungkin para penyerobot tanah yang bukan haknya telah bersiap diri mendapatkan balasannya di dunia dan akhirat.
- Nabi Tidak Bersedia Menyalati Jenazah Koruptor

Selanjutnya, hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud tentang Nabi tidak mau menyalati jenazah pelaku ghulul dan batas harta yang bisa digolongkan sebagai ghulul:
Musadad telah menceritakan hadis kepada kami bahwa Yahya ibn Sa’id dan Bisr ibn al-Mufadhdhal menceritakan hadis dari Yahya ibn Sa’id, dari Muhammad ibn Yahya ibn Hbban, dari Abi ‘Amrah, dari Zaid ibn Khalid al-Juhani (diriwayatkan) bahwa salah seorang sahabat Nabi meninggal dunia pada waktu peperangan Khaibar. Sahabat memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw. ., kemudian beliau bersabda: “Shalatkanlah kawanmu itu.” Berubahlah wajah orang-orang itu karena (mendengar) sabda tersebut. Kemudian Rasulullah saw. menegaskan, temanmu itu telah melakukan ghulul di jalan Allah”. Kamipun segera memeriksa barang-barangnya, lalu kami menemukan perhiasan milik orang Yahudi yang harganya tidak mencapai dua dirham.( Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Juz XII, hlm. 284-285, no. Hadis 2335.)
Hadis di atas dikuatkan oleh Imam Nasa’i berikut:
Ubdaidillah ibn Said mengkhabarkan hadis kepada kami. Ia berkata Yahya ibn Said telah menceritakan hadis dari Yahya ibn Said al-Anshary, dari Muhammad ibn Yahya ibn Habban dari Abu ‘Amrah dari Zaid ibn Khalid. Ia berkata bahwa ada seseorang mati di medan perang Khaibar. Kemudian Rasulullah saw. . bersabda: “Shalatkanlah untuk sahabatmu itu (sedang aku sendiri tidak ikut shalat), karena ia telah korupsi harta rampasan perang di jalan Allah.” Kamipun segera memeriksa perbelakalan perang tersebut dan kami mendapatkan di dalam perbekalannya kharaz (perhiasan) milik orang Yahudi yang nilainya tidak sampai dua dirham. (Sunan al-Nasa’i, Kitab al-Jana’iz, no. hadis 1933)

Pernyataan di atas masih dikuatkan lagi oleh hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal sebagai berikut:

Dari Zaid ibn Khalid al-Juhannni, ia berkata bahwa salah seorang dari kaum muslimin meninggal di perang Khaibar. Hal ini disampaikan kepada Rasulullah saw. .,

kemudian beliau bersabda: “Shalatkanlah jenazah teman kalian!” berubahlah wajah orang-orang di sana mendengar pernyataan Nabi. Rasulullah saw. Menegaskan “Sungguh temanmu itu telah korupsi di jalan Allah”. Kemudian kami menyeldiki barang-barang orang yang mati tersebut, kami temukan sebuah perhiasan dari bangsa Yahudi yang nilainya tidak mencapai dua dirham. (Ahmad Ibn Hanbal, Musnad Ahmad, no. hadis 16417)

Hadis-hadis di atas sangatlah kuat menjadi dalil tentang kerasnya larangan ghullul. Hadis ini juga menunjukkan bahwa korupsi terjadi dalam konteks harta atau kekayaan publik yang pada masa dahulu dicontohkan dengan harta rampasan perang. Jumlah barang/kekayaan yang dikorup pun dijelaskan, walaupun hanya ditemukan relatif kecil, tidak sampai dua dirham.            Sekecil itupun Rasulullah saw. . tidak bersedia menyalatkan jenazahnya, apalagi yang lebih besar daripada itu. Dengan tidak bersedia menyalatkan, berarti Rasulullah saw. sangat marah dan tidak mau mendoakan untuk pengampunan dan keselamatannya.
- Batas Minimal Tindakan Dikategorikan Korupsi
Dalam banyak hadis disebutkan bahwa orang yang menggelapkan sebatang jarum saja sudah dinilai melakukan ghulul. Memang harga sebatang jarum itu tidak seberapa atau relatif murah, tetapi jika pelanggaran yang kecil ini dibiarkan akan merembet ke yang lebih besar. Bila didiamkan terus, orang akan mengkorup besi bangunan gedung sekolah, batu dan pasir untuk jembatan, kayu-kayu gelondongan dari hutan, semen-semen proyek, buku-buku sekolah, kertas atau alat-alat      dari kantor, mobil dinas, minyak mentah yang diselundupkan keluar
negeri, fasilitas-fasilitas umum, dan lain-lain.
Rasulullah saw. mengingatkan manusia untuk menghindari korupsi sekecil apapun, karena itu akan mendatangkan laknat Allah. Laknat tersebut sudah bisa dirasakan dalam bentuk kegelisahan hidup di tengah gelimang harta hasil korupsi.
Musadad telah menceritakan hadis kepada kami, Yahya telah menceritakan hadis kepada kami, dari Ismail ibn Abi Khalid, Qais telah menceritakan hadis kepadaku, ia berkata ‘Adi ibn Umairah al-Kindi telah menceritakan kepadaku, bahwa Rasulullah saw. . bersabda: “Wahai manusia, siapa saja di antara kalian yang diberi pekerjaan (tugas) lalu menyembunyikan walau sebatang jarum hingga yang lebih kecil dari itu, maka yang demikian termasuk ghulul yang akan dibawa olehnya (untuk dipertanggungjawabkan) pada hari kiamat.” Kemudian seorang laki-laki

dari Anshar bernama Aswad berdiri seolah aku meliharnya, seraya ia berkata: “Wahai Rasulullah saw., terimalah hasil tugas darimu.” Rasulullah saw. berkata: “Apa itu yang ada padamu?” orang tersebut berkata: “Aku mendengarmu bersabda begini dan begini.” Rasulullah saw. menegaskan “Siapa saja yang kami beri pekerjaan/tugas untuk suatu urusan, maka hendaklah ia menyerahkan semuanya, sedikit atau banyak. Apa-apa yang diberikan (sebagai upah kerja resmi) hendaklah ia menerimanya dan apa saja yang dilarang mengambilnya, hendaklah ia menahan diri (untuk tidak mengambilnya).” (Abu Dawud, Sunan Abi Dawud: Kitab al-Aqdhiyyah, no. Hadis 3110)

Hadis senada diriwayatkan oleh Ahmad.
Semua harta hasil korupsi, sekecil apapun, harus dipertanggungjawabkan kepada Allah. Sungguh pengawasan Allah lebih cermat dan teliti dibanding pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi yang ada di banyak negara.

- Allah Tidak Menerima Sedekah dari Hasil Korupsi
Rasulullah saw. menegaskan bahwa Allah tidak menerima sedekah yang dihasilkan dari korupsi atau tindak kecurangan lainnya. Dengan pernyataan yang lebih populer, dosa korupsi tidak bisa diputihkan dengan sedekah sebanyak apapun. Hal ini dipahami dari beberapa hadis yang jumlahnya sangat banyak. Dalam hadis riwayat muslim, kitab al-Thaharah, nomor: 329 disebutkan:
Said ibn Mansur, Qutaibah ibn Said, dan Abu Kamil al-Jahdari telah menceritakan hadis kepada kami, sementara lafadznya milik Said. Mereka berkata Abu Awanah telah menceritakan hadis kepada kami dari Simak ibn Harb, dari Mush’ab ibn Sa’d. Ia berkata, Abdullah ibn ‘Umar masuk ke rumah Ibn ‘Amir untuk menjenguknya karena sakit. Kemudian Ibn ‘Amir berkata, “mengapa engkau tidak berdoa kepada Allah untuk kesembuhanku, hai Ibn Umar?” Ibn Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Shalat tanpa bersuci tidak diterima dan begitu juga sedekah dari hasil ghulul.” (Muslim, Jami’u al-Shahih, no. Hadis 329)

Qutaibah ibn Sa’id telah menceritkan kepada kami, Abu Awanah telah menceritakan hadis kepada kami, dari Simak ibn Harb (al-Tahwil). Dan Hannad telah menceritakan hadis kepada kami, Waqi’ telah menceritakan hadis kepada kami, dari Israil, dari Simak, dari Mush’ab, ibn Sa’d, dari Ibn ‘Umar, dari Nabi .. Beliau bersabda: “Shalat tanpa kesucian tidak akan diterima, begitu juga sedekah dari hasil korupsi”. Hannad berkata dalam hadisnya menggunakan “Illa bi thahurin.” Abu ‘Isa berkata bahwa hadis ini adalah yang paling sahih dalam bab ini dan paling
bagus. (Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi: Kitab al-Thaharah, no. Hadis 1)

Bagi sebagian koruptor, setelah sukses melakukan korupsi, ia akan berusaha tampil “saleh” dengan membagi sebagian hasilnya untuk membangun masjid, menyantuni anak-anak yatim, memberi beasiswa belajar bagi anak tak mampu, mengundang fakir miskin, bolak-balik ke Makkah tiap tahun untuk Umrah dan Haji sebagai topeng yang menutupi wajahnya yang korup, dan sebagainya. Walaupun itu dilakukan dengan intensif, terutama di bulan Ramadhan, tetap saja sia-sia dalam pandangan Allah. Tindakan demikian sebenarnya hendak mengelabui atau menyuap Allah dengan sejumput sedekah yang riya atau ibadah yang pura-pura.
Berangkat dari hadis di atas pula, bisa dipahami bahwa sedekah untuk pemutihan dosa korupsi adalah tindakan sia-sia, tidak tahu malu, dan hanya mementingkan kesalehan pribadi setelah mengemplang harta publik. Dalam konteks ini, tidak berlaku pahala sedekah yang berlipat ganda seperti dalam keadaan yang normal dan dari sumber yang sah dan halal.
- Ghulul Menghalangi Masuk Surga
Dalam beberapa riwayat, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa ghullul (korupsi), kibr (angkuh), dan dain (hutang yang tidak dibayar) dapat menghalangi seseorang masuk surga. Di riwayat lain, Rasulullah saw. tidak menyebut al-kibr (sombong), tetapi al-kanz (penimbunan atau
penyembunyian barang ketika dibutuhkan oleh publik). Walaupun seseorang memiliki banyak kebaikan dan ibadah lainnya, tetapi jika ia terlibat korupsi, keangkuhan (riwayat lain, penimbunan) dan enggan membayar hutang, maka sulit baginya untuk masuk ke dalam surga. Surga hanya diperuntukkan untuk mereka yang hidupnya jujur, tidak curang, tidak sombong dan jika berhutang bersedia melunasinya. Hal ini didasarkan pada hadis-hadis berikut, antara lain:
Hadis riwayat Imam al-Tirmidzi:
Qutaibah ibn Said telah menceritakan hadis kepada kami, Abu Awanah telah menceritakan hadis kepada kami, dari Qatadah, dari Salim ibn Abi al-Ja’di, dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: “Siapa saja yang meninggal dunia dalam keadaan terbebas dari tiga hal, yaitu kesombongan, korupsi, dan hutang, niscaya ia masuk surga.” (Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi: Kitab al-Sair, no. Hadis 1496)
Dalam hadis diatas, tiga hal itu adalah sombong, ghulul, dan hutang. Tiga hal tersebut menghalangi seseorang masuk surga. Hadis di atas sedikit berbeda redaksi dengan riwayat lain yang mengganti al-kibr (sombong) dengan alkanz (menyimpan atau menimbun kebutuhan pokok
rakyat) dengan tetap menyebutkan kata ghulul. Riwayat dengan redaksi berbeda tersebut masih dalam kitab Sunan al-Tirmidzi:

Muhammad ibn Basyar telah menceritakan kepada kami, Ibn Abi ‘Adi telah menceritakan hadis kepada kami, dari Said, dari Qatdah, dari Salim Ibn Abi al- Ja’di, dari Ma’dan ibn Abi Thalhah, dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang ruhnya telah berpisah dari jasadnya sedang ia terbebas dari tiga perkara, yaitu: penimbunan, korupsi, dan hutang, niscaya ia masuk surga. (Al-Tirmidzi, no. Haidts 1498)

Hadis ini sangat tegas. Siapa saja manusia yang terbelit atau terkait tiga masalah tersebut dengan bukti-bukti yang cukup akan terhalangi masuk surga. Juga dapat dipahami bahwa pelaku korupsi harus mengembalikan semua kekayaan hasil korupsi, bila tidak akan menjadi hutang yang harus dibayar. Seorang yang tidak tertangkap atau tidak diketahui oleh pihak lain bahwa ia korupsi, maka tetap saja akan menjadi hutang yang harus dibayar atau dikembalikan. Jika tidak, akan mengganjal pintunya menuju surga.
- Risywah (Suap-Menyuap)
Istilah lain yang serupa dengan korupsi tetapi tak sama adalah risywah/ suap-menyuap. Jika ghulul dilakukan oleh satu pihak yang aktif, risywah dilakukan oleh dua pihak yang sama-sama aktif dan sama-sama berkepentingan. Si penyuap berkepentingan mendapatkan sesuatu keuntungan yang lebih besar atau terhindar dari suatu belitan hukum. Sedangkan si penerima suap berkepentingan mendapatkan imbalan, baik materi maupun non materi dengan cara tidak sah, menyalahgunakan wewenang/amanah jabatan, dan melanggar hukum. Risywah (atau rasywah/rusywah) adalah suap-menyuap untuk mempengaruhi sebuah keputusan agar menguntungkan pihak tertentu dan sebaliknya merugikan pihak lain. Al-Jurjani mendefinisikan risywah sebagai ma yu’tha li ibthali baqqin aw li ihqaqi bathilin35 (apa saja yang diberikan untuk membatalkan yang benar dan membenarkan yang batal).
Orang yang menyuap disebut al-rasyi dan yang meminta atau menerima suap disebut al-murtasyi. Risywah sangatlah berbahaya bagi kehidupan masyarakat karena dapat merusak sistem yang adil serta memutarbalikkan fakta dan kebenaran. Risywah dapat menghambat nilai profesionalitas, merusak martabat pihak lain, dan menurunkan standar kualitas. Betapa tidak, masyarakat menjadi tidak jujur dalam menilai sesuatu, menyebabkan biaya tinggi (high cost) dan dapat mempengaruhi keputusan seseorang. Dalam kehidupan politik, suap sering dikenal sebagai money politics (politik uang). Artinya dengan menggunakan kekuatan uang (dan sejenisnya) keputusan atau pilihan seseorang bisa berubah drastis. Suap seringkali digunakan untuk mengurangi hukuman seseorang, bahkan membebaskannya dari tuntutan hukum. Hadis-hadis tentang risywah, antara lain:

Utsman bin Affan telah menceritakan hadis kepada kami, Abu Awanah telah menceritakan hadis kepada kami, ia berkata Umar ibn Abi Salamah telah menceritakan hadis kepada kami, dari bapaknya, dari Abi Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah melaknat orang yang menyuap dan orang yang disuap terkait masalah hukum/kebijakan.” (Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad, no. Hadis 8670)

Hadis ini menjelaskan bahwa Allah SWT melaknat orang yang menyuap dan menerima suap dalam masalah hukum atau kebijakan. Dalam riwayat lain tidak disebutkan kata “fi al-hukm”, sehingga cakupan maknanya lebih luas ke semua aspek. “Rasulullah saw. bersabda:Laknat Allah untuk orang yang memberi suap
dan yang menerima suap.”  (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Hadis ini semakin menegaskan bahwa Allah sangat murka kepada para penyuap dan penerima suap dalam semua hal.
Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah saw. melaknat penyuap, penerima suap, dan perantaranya, yaitu orang yang menghubungkan antara keduanya.” (Ahmad ibn Hanbal, no. Hadis 21365)
Riwayat hadis ini ada tambahan kata al-raisy, yaitu orang yang menjadi perantara antara penyuap dan yang disuap. Tentu hadist ini menunjukkan bahwa semua orang yang terlibat aktif dalam proses suapmenyuap mendapat laknat dari Allah dan Rasul-Nya.

























DAFTAR PUSTAKA

·         Fakhrur Razi, Makalah Urgensi Hadis-Hadis Anti Korupsi dalam Upaya Pemberantasan Korupsi, Semarang
·         Azyumardi Azra, “Agama dan Pemberantasan Korupsi” dalam Pramono
·         A.W. Munawir, Kamus al-Munawwir Arab – Indonesia Terlengkap, Krapyak: PP al-Munawwir, 1984
·         Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Juz IV
·         Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad, no. hadis 12722.
·         Al-Jurjani, Ali Ibn Muhammad, Kitab Ta’rifat,Beirut: Maktabah Lubnan, 1978 M
·         al-Nawawi, Riyadhu al-Shalihin, hadis nomor 651
·         Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi: Kitab al-Thaharah
·         Bukhari, Shahih al-Bukhari: Kitab al-Iman, Beirud: Dar al-Fikr, 1420 H/ 2000 M, jilid I
·         Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Umum Bahasa Indoneisia, Jakarta: Balai Pustaka, 1995.
·         Ibn Hajar Al-Asqalani, Bulugh al-Maram min Adillati al-Ahkam, hal. 319.
·         Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari, Kairo: Dar Diyan al-Turats
·         Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, Mu’jam Lughat al-Fuqaha, Beirut: Dar al- Nafais, 1985
·         Muslim, Shahih Muslim: Kitab al-Iman, no. hadis 165. Rohi Baalbaki, al-Mawrid: A Modern Arabic-English Dictionary, Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, 2000
·         Sunan al-Nasa’i, Kitab al-Jana’iz,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar